Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner

[Koran-Digital] Sikap One Man Show Abraham Samad Bisa Jadi Beban Ketua KPK

Tuesday, March 13, 2012

Sikap One Man Show Abraham Samad Bisa Jadi Beban Ketua KPK
Andri Haryanto - detikNews
Rabu, 14/03/2012 07:37 WIB
Jakarta Sebagai Ketua KPK Abraham Samad dikenal lantang dan tegas dalam
menentang praktik korupsi. Saking lantangnya, tak jarang kalimat-kalimat
lugas meluncur dari mulutnya. Saking ambisius dan bersemangatnya dia
menentang praktik kotor korupsi, sesekali dia terlihat menyuarakan
sendiri perkembangan penyelidikan dan penyidikan kasus di KPK kepada publik.

Namun sikap one man show itu mau tidak mau harus dikurangi kadarnya.
"Beri kesempatan kepada pimpinan KPK lainnya agar tidak terlalu
disimbolkan bahwa KPK adalah Abraham Samad, atau nantinya dikhawatirkan
Pimpinan KPK sekarang akan menanggung beban sendiri," kata Direktur
Monitoring, Advokasi dan Jaringan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK).

Pernyataan tersebut disampaikan Ronald saat berbincang dengan detikcom,
Selasa (13/3/2012), menanggapi mengenai kondisi 'panas' di KPK antara
Pimpinan KPK dengan beberapa penyidik dan jaksa yang bertugas di KPK.

Pengamatan Ronald, hampir satu semester KPK di bawah kepemimpinan
Abraham Samad secara intensif muncul Abraham di depan publik dengan gaya
komunikasinya yang lantang.

Ronald memahami bila itu merupakan konsekwensi pimpinan KPK termuda, 45
tahun, ini sebagai pucuk pimpinan dalam menyampaikan perkembangan
kasus-kasus yang ditangani KPK.

"Walaupun lantang tapi tidak diimbangi dengan kesungguhan dikhawatirkan
akan berdampak buruk ke KPK. Karena publik menunggu pelaksanaan dari
ucapan itu," jelas Ronald.

"Tiap orang punya karakter, hanya perlu disadari posisi yang sekarang
ditempati bukan posisi yg dulu, bawaan karanter lantang tidak sepenuhnya
mengkonfirmasi komitmen yang jauh lebih ditunggu," imbuhnya.

Peran pimpinan lainnya seharusnya bisa meredam gaya komunikasi aktivis
yang pernah menyeret Wali Kota Makassar atas dugaan praktik korupsi.

"Tiap pimpinan bisa saling mengingatkan, kalau karakter komunikasinya
dianggap kurang memberikan situasi kondusif sebaiknya bisa
dikondisikan," papar Ronald.

Sebelumnya, sumber detikcom membisikan, protes penyidik itu terjadi pada
Senin (12/3) siang. Protes berawal dari penarikan 4 penyidik yakni Hendy
Kurniawan dan Moch Irwan Susanto. Sebelumnya seorang penyidik Afief Y
Miftach dan jaksa Dwi Aries Sudarto sudah dikembalikan 'paksa' ke
institusinya. Para penyidik itu berhasil ditenangkan Wakil Ketua KPK
Bambang Widjojanto.

Disebut-sebut, pemulangan penyidik dan jaksa itu dikarenakan permintaan
Samad dan Zulkarnaen. Kedua pimpinan itu menilai para penyidik itu
'membangkang' terkait penyidikan kasus. Padahal, masih menurut sumber
detikcom, para penyidik itu bukan melawan namun mengikuti prosedur dan
tahapan proses penyidikan.

Tapi sikap mereka dianggap sebaliknya. Penyidik polisi dan jaksa
dianggap membangkang. Nah, pembangkangan itu berujung pada pemulangan.
Salah satu kasus yang menjadi bahan 'keributan' soal penanganan Miranda
S Gultom.

Juru bicara KPK Johan Budi yang dikonfirmasi membantah soal adanya
pergolakan. Namun menurut dia hal biasa saja kalau penyidik jaksa dan
polisi bertandang ke ruangan pimpinan.

"Kalau keperluannya demo atau protes saya tidak tahu. Saya di lantai 3
penyidik di lantai 8," jawab Johan diplomatis saat dikonfirmasi.

http://us.news.detik.com/read/2012/03/14/073759/1866517/10/?992204topnews

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

Blogger news

 
© Copyright 2010-2011 Wet Dream All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.