Andi Saputra - detikNews
Rabu, 14/03/2012 08:55 WIB
Jakarta Pilihan mantan finalis Miss Indonesia 2006, Deva Indah untuk
menjadi hakim mengundang decak kagum masyarakat, tidak terkecuali Komisi
Yudisial (KY). Sebab menjadi hakim harus siap tidak kaya, tetapi cukup
untuk hidup sederhana.
"Ini sangat luar biasa. Dia berani meninggalkan dunia modeling yang
penuh gemerlap. Memilih kehidupan yang sederhana, menjadi hakim yang
bertugas di daerah," kata Wakil Ketua KY, Imam Anshari Saleh saat
berbincang dengan detikcom, Selasa (13/5/2012).
Padahal jika ingin berprofesi di bidang hukum, bisa saja Deva menjadi
pengacara atau notaris. Dimana kedua profesi tersebut rezekinya datang
dan terlihat lebih jelas. "Kalau menjadi hakim kan tidak bisa menjadi
orang kaya. Kecuali hakim yang nakal loh ya," papar Imam.
Meski demikian, Imam mewanti-wanti dan mengingatkan Deva untuk menjadi
hakim sesuai kode etik. Masa lalu Deva yang bisa melanggak-lenggok di
catwalk harus dia sudahi. Kehidupan gemebyar juga dia tidak bisa nikmati
lagi. Berbajupun harus sopan dengan aturan-aturan yang ketat.
"Tidak apa-apa berpenampilan cantik tetapi harus sopan. Jangan sampai
datang ke diskotik dan sejenisnya. Apalagi bertemu pihak berperkara. Itu
tetap tidak bisa ditolerir," ujar Imam mengingatkan.
Deva menggondol gelar SH dari Unpad pada 2005. Setahun kemudian dia
menjadi finalis Miss Indonesia mewakili Provinsi Jawa Barat. Beberapa
bulan setelah itu dia diterima menjadi Calon Hakim dengan penempatan
magang di Bandung. Lalu pada 2009 dia diangkat menjadi hakim dengan
penempatan di PN Muara Bulian hingga sekarang.
"Kalau ikut Miss-Miss an kan tidak abadi. Kalau mengabdi ke negara kan
akan dikenang sepanjang masa. Asal konsisten," terang Imam.
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
