Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner

[Koran-Digital] MUH KHOLID AS: Teladan Politik Bung Hatta

Tuesday, March 13, 2012

Teladan Politik Bung Hatta PDF Print
Wednesday, 14 March 2012
"Tuhan, terlalu cepat semua, Kau panggil satu-satunya yang tersisa,
Proklamator tercinta. Jujur, lugu, dan bijaksana, mengerti apa yang
terlintas dalam jiwa Indonesia.Hujan air mata dari pelosok negeri saat
melepas engkau pergi, berjuta kepala tertunduk haru,terlintas nama
seorang sahabat yang tak lepas dari namamu.Terbayang baktimu, terbayang
jasamu, jelas,jiwa sederhanamu."


Lirik lagu Iwan Fals itu khusus dipersembahkan untuk Moh Hatta, akrab
dipanggil Bung Hatta, yang meninggal dunia pada 14 Maret 1980.

Kendati lagu ini telah beredar secara resmi sejak 1981, ia tetap
kontekstual untuk didendangkan pada era sekarang.Terlebih ketika kondisi
kekinian dipenuhi dengan kemiskinan teladan tentang sosok pemimpin
asketis yang mampu memosisikan diri sebagai cermin masyarakat.Kehancuran
moral, hukum, dan etika politik dewasa ini membuat kehadiran "titisan"
Bung Hatta sangat dirindukan. Diantara sekian keistimewaan yang
dimilikinya dibandingkan founding fathers lainnya adalah sosoknya yang
hampir tanpa cacat selama 78 tahun menjalani hidup.

Ketika para pemimpin lain jatuh bangun, Bung Hatta menunjukkan
integritasnya sebagai sosok tidak (ter)korupsi(kan), meski kesempatan
baginya terbuka lebar dan dapat diciptakan. Sejarah mencatat bahwa pria
berkacamata kelahiran 12 Agustus 1902 ini adalah seorang yang memasuki
ranah politik dalam kesederhanaan, dan tetap sederhana saat
meninggalkannya. Jika boleh disederhanakan lagi,dalam diri Bung Hatta
terkumpul sifat kejujuran, kesederhanaan, keteguhan hati, serta kekuatan
karakter yang sulit dicarikan tandingan.

Keteladanan ini secara mudah bisa dilihat dari keteguhan Bung Hatta
untuk selalu mengedepankan kepentingan negara, bahkan mengabaikan
keluarganya sendirinya. Pada 1950-an misalnya istrinya, Rahmi Hatta,
berkeinginan membeli mesin jahit dengan caramenyisihkan uang belanja.
Ketika tabungannya hampir mencapai harga mesin jahit, tiba-tiba terjadi
sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1. Nilai tabungan
istrinya otomatis juga turun dan tidak bisa menjangkau harga mesin jahit.

Ketika Bung Hatta pulang, Rahmi mengeluh karena suaminya itu tidak
pernah memberi tahu jika akan ada sanering. Padahal sebagai wakil
presiden, dia pasti tahu rencana kebijakan tersebut.Kalau saja diberi
tahu lebih awal, mungkin Rahmi bisa melakukan sesuatu dengan
tabungannya. Namun, jawaban Bung Hatta sungguh bernas, "Saya percaya
kepadamu. Tetapi, rahasia negara tetap rahasia, tidak boleh bocor kepada
siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit demi kepentingan negara," (Nur
Cholis Huda,2012).

Asketisme politik Bung Hatta ini tentu sangat relevan untuk
diaktualisasikan oleh para politisi kontemporer,yang dalam faktanya
hampir-hampir nihil keteladanan.Yang mencuat dari belantara perpolitikan
nasional mutakhir justru fenomena kesenjangan logika antara rakyat
dengan elitnya. Berbagai problem sosial yang dihadapi rakyat seperti
tidak terdeteksi oleh kalangan "the have" ini sehingga ragam perilaku
dan kebijakan yang antirakyat begitu mudah bergulir. Fakta kehidupan
politik yang kental dengan nuansa keglamoran dan sikap hedonisme, dengan
ketidaksungkanan tampilparlentedan "serbaluks" layaknya kaum selebritas.

Mereka seolah hanya memikirkan kenyamanan dan kenikmatan hidup sendiri
dan keluarganya saja,tanpa memikirkan hidupan orang lain, apalagi
rakyatnya. Sementara di ujung lain, jutaan rakyat terhimpit dalam
kemiskinan, masuk deretan angka putus sekolah yang fantastik, jeritan
buruh menuntut kesejahteraan, dan ragam problem lainnya. Singkatnya,
para politikus sudah melupakan "wasiat" Bung Hatta bahwa demokrasi
membutuhkan sikap tanggung jawab dan toleransi.

Model demokrasi yang mengedepankan unjuk kekuatan massa pendukung otot
maupun uang, justru mendominasi perilaku politik di republik
ini.Bagaimana masih bisa dikatakan bermoral jika mereka melakukan jual
beli pasal dalam menyusun undang-undang (UU)? Para politikus sebagai
pemegang kartu permainan seperti rombongan aji mumpung yang menjadikan
politik sebagai industri cari makan dan kekuasaan.

Tak heran jika Haryatmoko (2003) sejak jauh hari memberikan analisis
bahwa kepemimpinan dan para pengambil keputusan telah dihinggapi
pendangkalan dan pemiskinan politik.Hal ini ditandai tiga kecenderungan.
Pertama, mengabaikan pendekatan ideologi, tata nilai, dan kehilangan
prioritas.Kedua,melihat ruang publik layaknya sebuah pasar sehingga yang
diperhitungkan adalah cara mendapatkan keuntungan ekonomis. Ketiga,
pendangkalan dan pemiskinan politik telah mendegradasi etika kekuasaan,
etika politik kekuasaan.

Realitas ini tentu sangat paradoks dengan cita-cita Bung Hatta bahwa
penguasa adalah mereka yang menempatkan diri sebagai pelayan rakyat yang
dialogis dan terbuka. Segala kebijakan yang dilahirkan negara
sepantasnya bersandar pada keadilan dan kebenaran hati rakyat,dengan
satu tujuan untuk menyejahterakan rakyat. Maka bukanlah tempatnya jika
elit menyejahterakan dirinya sendiri, manasbihkan sebagai "raja" yang
harus dilayani, maupun ningrat baru (Nugroho Budisantoso, 2002).

Ongkos untuk memenuhi syahwat kemewahan hidup politikus, birokrat,dan
pejabat di negeri ini kelewat mahal, yang ironisnya rakyat yang harus
menanggung beban anggarannya. Sebaliknya, mereka tidak cukup bukti
menunjukkan kinerja dan pengabdian yang hebat selain gemar mengiklankan
diri di media massa agar mandatnya sebagai penguasa diperpanjang lagi
oleh rakyat. Kondisi ini membuat kehadiran politikus asketis sebagaimana
yang dipraktikkan Bung Hatta sangat dinantikan oleh rakyat.

Dia meninggalkan teladan asketisme politik yang berlandaskan pada
prinsip kesederhanaan dan etika, dibarengi dengan tindakan yang memihak
kemaslahatan rakyat banyak. Mampukan partai politik melahirkan satu saja
"Bung Hatta"baru, ataukah 1001 titisan "Nazaruddin" baru? Allah a'lam bi
al-shawab.●

MUH KHOLID AS
Pemred Majalah MATAN PW Muhammadiyah Jatim, Peneliti di Institute for
Religion and Society Studies (IRSoS)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/477463/

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

Blogger news

 
© Copyright 2010-2011 Wet Dream All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.