Wednesday, 14 March 2012
Di setiap kampus akan selalu ada cerita historis tentang peran dan
kontribusi mahasiswa dalam setiap babak sejarah bangsa ini.
Idealisme mahasiswa telah dikenang sebagai senjata paling ampuh dalam
memerangi tirani penguasa. Dia hadir sebagai romantisme perjuangan
golongan muda masa lalu.Mahasiswa digambarkan sebagai golongan yang
memiliki dasar kesadaran moral,memihak kepentingan rakyat, memiliki
tanggung jawab intelektual, kepedulian politik,dan pengabdian sosial.Tak
berlebihan manakala kini mahasiswa dijuluki sebagai agen perubahan
(agent of change),iron stock,penjaga moral,dan sebagainya.
Seiring dengan perkembangan zaman, mahasiswa ditantang dengan polemik
permasalahan yang jelas berbeda dengan tantangan mahasiswa pada masa
lalu. Kini Idealisme di dalam kampus tak akan cukup menjadi garansi
konsistensi bagi mereka yang dihadapkan pada realita hidup, di mana
persaingan ketat menuju masa depan yang lebih baik selalu terjadi di
setiap jenjang kehidupan.Padahal pada hakikatnya mahasiswa sebagai
generasi yang akan memegang tampuk kekuasaan masa depan memiliki
kepekaan terhadap kondisi masyarakat sekitar.
Agaknya, kesibukan dalam mempersiapkan hidup lebih baik ini sering
melenakan sebagian besar mahasiswa kita sehingga terjebak dalam menara
gading perguruan tinggi. Di beberapa sisi bahkan cenderung mengerdilkan
peran mahasiswa itu sendiri. Tidak bisa dimungkiri,di mata sebagian
besar masyarakat,paradigma PT sebagai gerbang utama menuju kehidupan dan
masa depan yang lebih baik masih menjangkiti.Perguruan tinggi dianggap
dapat menjadi tumpuan impian, harapan, atau asa menuju kemapanan.
Di tengah budaya pragmatisme yang menjangkiti pikiran banyak orang
termasuk mahasiswa, hadirnya beberapa tokoh seperti Anies Baswedan, yang
mampu menggagas program yang memfasilitasi peran mahasiswa untuk
melakukan pengabdian masyarakat,seperti Indonesia Mengajar,menjadi angin
segar. Ditambah lagi saat ini mulai bermunculan beberapa program
pengabdian masyarakat yang menggunakan pendekatan kreatif dan digagas
langsung oleh mahasiswa seperti program-program pembaharu muda.
Fakta bahwa banyaknya animo atau partisipasi mahasiswa pada setiap
program itu cukup mengejutkan banyak pihak.Hal ini kemudian kembali
menerbitkan optimisme masyarakat terhadap mahasiswa yang sempat padam.
Pengabdian masyarakat merupakan faktor yang mengokohkan keberadaan
perguruan tinggi sehingga mampu mengakar di tengah-tengah
masyarakat.Untuk itu,kontribusi mahasiswa pada masyarakat umumnya selalu
dinantikan oleh banyak kalangan.
Terlepas dari peran mahasiswa sebagai golongan yang harus kritis
terhadap setiap kebijakan publik yang digulirkan para elit pemerintah,
mahasiswa harus bersedia menyingsingkan lengan untuk membantu memajukan
masyarakat dalam berbagai bidang dan mampu melepaskan sejenak kungkungan
dari kemapanan menara gading. Di samping itu, api idealisme mahasiswa
juga harus selalu dikobarkan dalam menghadapi setiap permasalahan dan
tantangan zaman.●
AMALIA AYUNINGTYAS
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI Local Representative Forum for
Indonesia Jakarta
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/477456/
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
