Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner

[Koran-Digital] BURHANUDDIN MUHTADI: Telepolitics dan Gelembung Politik Elektoral

Tuesday, March 13, 2012

Telepolitics dan Gelembung Politik Elektoral PDF Print
Wednesday, 14 March 2012
Survei itu ibarat ramalan cuaca politik pada saat pengumpulan data
dilakukan. Dalam survei mutakhir yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia
(LSI), cuaca politik sangat tidak bersahabat dengan Partai Demokrat.

Sembilan bulan terakhir partai pemenang pemilu ini dihantam badai akibat
skandal Nazaruddin.Tak heran jika elektabilitas Demokrat berada di titik
terendah dibandingkan perolehan pada Pemilu 2009 sekitar 20,8%. Meski
demikian, perolehan suara Demokrat selama tiga bulan terakhir cenderung
stagnan. Pada Desember 2011 elektabilitas Demokrat 14%,awal Februari
2012 13,7%, dan awal Maret 2012 13,4%.

Dalam survei terakhir, ada dua partai yang mengalami kenaikan: Golkar
17,7% dan Nasional Demokrat (NasDem) 5,9%. Partai-partai lain cenderung
stagnan, bahkan turun: PDIP 13,6%, PKB 5,3%, PPP 5,3%,PKS 4,2%,Gerindra
3,7%, PAN 2,7%, dan Hanura 0,9%. Kenaikan Golkar dan NasDem lebih karena
keberhasilan menarik pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided
voters) yang sebelumnya di kisaran 29%, namun pada survei terakhir
undecided voters berkurang menjadi 23,4%. Partai-partai selain Golkar
dan NasDem cenderung tidak berubah dibanding survei Februari 2012.

Swing Voters

Dengan memakai simulasi daftar nama dan gambar 38 partai nasional dan
gambar dua partai baru NasDem dan Nasrep, NasDem mengambil ceruk pemilih
29 partai yang tidak lolos parliamentary threshold. Pada Pemilu 2009
suara yang diperoleh partaipartai kecil mencapai 18% lebih.Survei LSI
menunjukkan total suara partai-partai kecil hanya 3,5%.

Di tengah minimnya pergerakan elektoral partai-partai kecil dan kekuatan
media yang dimiliki Nas- Dem,partai baru ini sukses meraup ceruk pemilih
partaipartai kecil dan pemilih yang tidak memiliki keterikatan dengan
partai mana pun. Tapi, Golkar dan Nas- Dem jangan terlalu cepat gembira
dulu.Politik elektoral di Indonesia sangatlah dinamis dan fluktuatif
akibat besarnya proporsi pemilih mengambang (swing voters).
Karakteristik pemilih cair ini ada dua. Pertama, pemilih yang memiliki
tidak partyID. Hanya 20% pemilih yang punya partyID atau merasa dekat
dengan partaipartai.

Maka itu,volatilitas dukungan partai sangat rentan. Mayoritas responden
menyatakan kurang atau sama sekali tidak siap memilih 54,9%. Mereka
mengambang, mungkin menunggu waktu, menunggu partai atau calon yang
lebih meyakinkan, atau mungkin tidak akan memilih. Kedua, pemilih yang
belum menentukan pilihan yang berkisar antara 20–30%. Jumlah ini
potensial mengubah peta kekuatan partai secara drastis. Jika tidak ada
alternatif yang kredibel,bukan tidak mungkin pemilih ini akan golput.

Selain itu,pemilih yang sudah menentukan pilihan juga masih banyak yang
bisa pindah ke lain partai.Pemilih yang tidak setia ini yang
mengakibatkan dinamika politik elektoral kita mirip gelembung (bubble
politics). Setiap pemilu pemenangnya berbeda.Pada 1999 PDIP muncul
sebagai jawara,lalu disusul Golkar yang unggul pada 2004, dan terakhir
Demokrat tampil sebagai pemenang pada 2009.

Revolusi Media

Secara teoritik, kontinuitas atau stabilitas partai politik dapat
terjadi bila pemilih mengidentikkan diri dengan partai.Bila hanya
sedikit yang memiliki partyID, dukungan pada partai lemah dan bergejolak
(Campbell dkk, 1960). Gejala makin besarnya pemilih mengambang yang tak
terikat partai bertemu dengan makin menurunnya peran partai dibanding
media massa dalam menjangkau pemilih.

Inilah yang membuat NasDem, yang memiliki keunggulan akses terhadap
media melalui iklan-iklan politiknya, akhirnya muncul sebagai kekuatan
elektoral baru yang patut diperhitungkan. Fenomena ini, menurut Michael
Bauman (2007), disebut telepolitics, yakni bergesernya peran partai dan
munculnya dominasi media, terutama televisi, dalam memersuasi
pemilih.Televisi mampu menyelinap ke ruang domestik keluarga dan
memerantarai hubungan yang lebih bersifat impersonal.

Berbeda dengan pertemuan-pertemuan politik konvensional yang
mensyaratkan kehadiran seseorang,interaksi melalui televisi lebih
bersifat one-way traffic communication, lebih praktis, dan tidak
merepotkan pemilih. Sejak 2008 LSI menemukan gejala di atas yang disebut
"revolusi diam"(silent revolution) melalui observasi sistematik terhadap
memori dan intensitas pemilih terhadap iklaniklan partai dan dampak
elektoralnya terhadap elektabilitas partai. Kompetisi antarpartai di
Indonesia makin dipengaruhi televisi sebagai medium utama penyebaran
informasi politik dan alat persuasi paling masif.

Organisasi partai makin lama makin kehilangan relevansi sebagai saluran
sosialisasi politik. Meski demikian, peran media melalui iklan di
televisi yang makin besar dalam memerantarai hubungan partai dengan
pemilih bisa berimplikasi etis.Kamera bisa mengonstruksi citra menjadi
realita. Melalui apa yang oleh kalangan televisi disebut "the illusion
of presence,"kamera berpretensi memermak wajah asli partai dan politisi.

Menguatnya iklaniklan politik juga bisa mendorong partai-partai untuk
lebih mengedepankan "serangan udara" ketimbang kerja-kerja konkret di
lapangan. Karena itu, perlu ditekankan bahwa kampanye via media massa
harus dimaknai sebagai komplemen dari kerjakerja konkret partai yang
langsung bisa dirasakan oleh rakyat.●

BURHANUDDIN MUHTADI
Pengajar FISIP UIN Jakarta dan Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/477470/

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

Blogger news

 
© Copyright 2010-2011 Wet Dream All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.